
Tue Oct 08 00:50:00 UTC 2024: ## Menteri ESDM Bahlil Lahadalia: Perizinan Migas Dipermudah, Lifting Diharapkan Meningkat
**Jakarta, 7 Oktober 2024 -** Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan langkah penting yang telah diambil untuk meningkatkan lifting migas di Indonesia. Dalam pidatonya di Penganugerahan Penghargaan Keselamatan Migas Tahun 2024, Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah telah memangkas aturan perizinan yang sebelumnya terlampau rumit.
“Negara kita dikomplain karena banyak aturan, dulu 320 lebih (aturan) sekarang hampir 200 aturan izin yang harus kita selesaikan,” ujar Bahlil.
Selain itu, Bahlil juga menyoroti skema _gross split_ dengan _cost recovery_ yang dinilai masih memiliki kendala, terutama dalam hal kompleksitas kriteria. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah merampingkan kriteria _gross split_ dari 29 item menjadi hanya 5 item.
“Ada _gross split_ yang baru itu adalah tadinya ada 29 item, saya sendiri bacanya susah, apa ini? Kok kriterianya panjang sekali,” ungkap Bahlil. “Maka, kemudian kita ramping dari 29 item menjadi lima item, untuk diberikan keleluasaan bagi kontraktor untuk memilih jalur mana agar kemudian bisa kita mengoptimalkan dan percepatan terhadap proses lifting kita.”
Dengan upaya ini, pemerintah berharap dapat mempercepat proses lifting minyak dan mendorong kontraktor untuk lebih aktif dalam pengembangan sumur-sumur yang ada. Bahlil juga menekankan bahwa dirinya terbuka terhadap kritik dan masukan untuk terus meningkatkan kebijakan di sektor energi.
“Saya tidak anti terhadap kritikan atau masukan, saya kebetulan juga (mantan) pengusaha kalau ada negara lain yang memberikan _sweetener_ bagus pasti kita akan menuju ke sana, tapi satu sisi kita harus bagaimana mengoptimalkan potensi yang ada,” tegas Bahlil.
Di sisi lain, Bahlil memastikan bahwa program biodiesel B50 masih dalam tahap kajian. Ia juga menegaskan bahwa presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memiliki program untuk mencapai kedaulatan energi.
Meskipun demikian, pemerintah memproyeksikan target lifting migas di tahun depan lebih rendah dibandingkan target tahun 2024. Hal ini diiringi dengan kabar bahwa Indonesia akan mendapat tambahan pasokan minyak bumi dari Malaysia sebesar 300.000 barrel per bulan mulai triwulan ketiga tahun depan.